Kamu
Tau Nomor 12?
Aku
menangkap sesosok makhluk dari ekor mataku. Tangannya berdansa lincah di atas
kertas buram bersama dengan sebuah pena antik. Ia menorehkan goresan-goresan
mulus yang membekas pada kertas tadi. Pemilik tangan itu sedikit menggeser bangkunya
dan melanjutkan kegiatannya sedikit lebih condong ke arahku. Samar-samar aku
bisa melihat jejak penanya yang berwarna biru.
12. Jadi, jumlah anak Suprapto seluruhnya
adalah 1.389 orang.
Jantungku
terasa berhenti berdetak, aku merasakan sensasi dingin yang menyerang wajahku
secara tiba-tiba. Sebuah pertanyaan sederhana terus melayang di pikiranku, yang
sebelumnya terasa sangat kosong melompong bak peribahasa tentang tong kosong
itu.
“Lho, kok jawabannya beda…?”
Kubaca
jawabanku yang tergores dengan grafit bermantel kayu.
12. Jadi, anak-anak Suprapto berjumlah 3.205
anak.
Aku cermati
lagi rangkaian rumus yang memusingkan, memastikan aku tak mengulang kesalahan
fatal seperti 1 x 1 = 2. Kulirik sosok tadi—Firdaus dengan serius. Dia anak
yang pintar, pasti setiap mengerjakan sesuatu, dia akan mengulangnya beberapa
kali lagi untuk memastikan kebenarannya. Jadi kemungkinannya untuk menulis
jawaban yang salah sangat kecil.
Aku memijat
keningku dengan frustasi, masa iya aku harus mengulangi setiap perkalian dan
pembagian yang mengandung pecahan desimal hanya untuk mengetahui jumlah anak
Suprapto? Kusambar kertas buram yang tergeletak manis di atas mejaku dengan
kesal, membaca ulang soal nomor 12, berusaha memahami setiap kata, dan mencoba
menemukan makna tersiratnya.
Yah, kan
siapa tau jumlah total dari anak Suprapto di soal nomor 12 ternyata adalah
letak koordinat sebuah harta karun, atau bahkan sebuah sandi rumit seperti Da
Vinci’s Code. Kalau memang benar, aku pasti akan membintangi sebuah film
bertitel “The Anaknya Suprapto’s Code”
Pikiranku
sangat kacau, bukan hanya memusingkan jawaban dari soal nomor 12, sekarang
anak-anak Suprapto mulai menjajah benakku dengan kode-kodenya yang absurd.
Decakan jengkel yang dihasilkan oleh lidah yang bersentuhan dengan
langit-langit mulut merobek keheningan ruangan secara spontan. Saat ini aku
sangat ingin menonjok muka seseorang.
Seharusnya,
yang pantas disalahkan saat ini adalah guruku. Teganya beliau membuat soal
rumit seperti ini yang sanggup membuat kepalaku ingin meledak saja. Tapi,
apakah sebenarnya semua ini salah Suprapto yang tidak mengikuti keluarga
berencana? Coba bayangkan, aku harus menonjok anak-anak Suprapto yang jumlahnya
lebih dari seribu biji itu.
Sebuah
tepukan keras dari Bu Nadine, sang guru les terdengar jelas di seluruh penjuru
ruangan, tanda waktu pengerjaan uji kompetensi telah berakhir. Aku menatap
kertas buramku dengan wajah suram. Sepertinya buramnya kertas ini akan sama
saja seperti nilaiku dan masa depanku yang muram.
Toh,
prinsipku dalam mengerjakan tugas adalah “iseng-iseng berhadiah” mengandalkan
kebejoan semata. Sukur-sukur tadi aku sempat melihat jawaban dari Firdaus
secara tidak sengaja. Meski pada akhirnya aku tak jadi mengikuti
perkataan makhluk khayalan kecil yang selalu berdiri di pundak kiri, berkulit
merah, bertanduk dan berekor panjang. Aku berhak merasa bangga karena telah
melakukan perbuatan jujur, lho.
Tiba-tiba
aku merasakan tepukan ringan dari temanku, Tia.
“Gimana Ni?
Bisa nggak tadi?”
“Entah, ga
ngerti lagi nomor 12.”
“Katanya
Rafael nomor 12 lebih dari 5000 lho.”
“Persetan
teuing ah!!”
Desisku
kesal dengan satu-satunya kalimat bahasa Sunda yang kuketahui, lalu aku mendatangi
meja Bu Nadine dan mengumpulkan kertas yang dipenuhi dengan hasil karyaku yang
terkesan ngawur.
“Lho, Diani kenapa?
Kok mukanya keliatan capek?” Sapa beliau lembut.
“Ya saya
capeknya ngurusin anaknya pak Suprapto itu bu,” Jawabku seadanya
“Kan Ibu
sudah mengajarkan caranya?” Bu Nadine merapihkan kertas-kertas di mejanya.
“Nah itu dia
bu, Suprapto sih ga ikut KB jadinya aku yang pusing hehehe,”
Aku terkekeh
unyu, berusaha terlihat setenang mungkin yang akhirnya disambut dengan ledakan
tawa dari sekelompok anak les yang berisi 15 orang. Dari lubuk hatiku yang
paling dalam aku hanya berbisik pelan “Tak sate kalian satu persatu”
Aku kembali
ke tempat dudukku, Firdaus masih terlihat anteng-anteng saja setelah
mengumpulkan hasil pekerjaannya. Ah, pastinya dia puas dengan jawabannya, dasar
orang pintar tak belajar saja dapat nilai 100 semudah membalikkan telapak
tangan. Aku mendekati mejanya untuk memastikan jawaban nomor 12.
“Us, susah
nggak tadi?”
“Ancur
minah, kamu tau nomor 12???”
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar