Senin, 26 Mei 2014

Kamu Tau Nomor 12?

Sebuah cerita yang w buat untuk tugas Bahasa Indonesia berdasarkan pengalaman sendiri. Cuma buat menuh-menuhin sih tapi apa salahnya ngepos di sini kan YAKAN YAKAN


Kamu Tau Nomor 12?

Aku menangkap sesosok makhluk dari ekor mataku. Tangannya berdansa lincah di atas kertas buram bersama dengan sebuah pena antik. Ia menorehkan goresan-goresan mulus yang membekas pada kertas tadi. Pemilik tangan itu sedikit menggeser bangkunya dan melanjutkan kegiatannya sedikit lebih condong ke arahku. Samar-samar aku bisa melihat jejak penanya yang berwarna biru.

12. Jadi, jumlah anak Suprapto seluruhnya adalah 1.389 orang.

Jantungku terasa berhenti berdetak, aku merasakan sensasi dingin yang menyerang wajahku secara tiba-tiba. Sebuah pertanyaan sederhana terus melayang di pikiranku, yang sebelumnya terasa sangat kosong melompong bak peribahasa tentang tong kosong itu.

“Lho, kok jawabannya beda…?”

Kubaca jawabanku yang tergores dengan grafit bermantel kayu.

12. Jadi, anak-anak Suprapto berjumlah 3.205 anak.

Aku cermati lagi rangkaian rumus yang memusingkan, memastikan aku tak mengulang kesalahan fatal seperti 1 x 1 = 2. Kulirik sosok tadi—Firdaus dengan serius. Dia anak yang pintar, pasti setiap mengerjakan sesuatu, dia akan mengulangnya beberapa kali lagi untuk memastikan kebenarannya. Jadi kemungkinannya untuk menulis jawaban yang salah sangat kecil.
Aku memijat keningku dengan frustasi, masa iya aku harus mengulangi setiap perkalian dan pembagian yang mengandung pecahan desimal hanya untuk mengetahui jumlah anak Suprapto? Kusambar kertas buram yang tergeletak manis di atas mejaku dengan kesal, membaca ulang soal nomor 12, berusaha memahami setiap kata, dan mencoba menemukan makna tersiratnya.
Yah, kan siapa tau jumlah total dari anak Suprapto di soal nomor 12 ternyata adalah letak koordinat sebuah harta karun, atau bahkan sebuah sandi rumit seperti Da Vinci’s Code. Kalau memang benar, aku pasti akan membintangi sebuah film bertitel “The Anaknya Suprapto’s Code”
Pikiranku sangat kacau, bukan hanya memusingkan jawaban dari soal nomor 12, sekarang anak-anak Suprapto mulai menjajah benakku dengan kode-kodenya yang absurd. Decakan jengkel yang dihasilkan oleh lidah yang bersentuhan dengan langit-langit mulut merobek keheningan ruangan secara spontan. Saat ini aku sangat ingin menonjok muka seseorang.
Seharusnya, yang pantas disalahkan saat ini adalah guruku. Teganya beliau membuat soal rumit seperti ini yang sanggup membuat kepalaku ingin meledak saja. Tapi, apakah sebenarnya semua ini salah Suprapto yang tidak mengikuti keluarga berencana? Coba bayangkan, aku harus menonjok anak-anak Suprapto yang jumlahnya lebih dari seribu biji itu.
Sebuah tepukan keras dari Bu Nadine, sang guru les terdengar jelas di seluruh penjuru ruangan, tanda waktu pengerjaan uji kompetensi telah berakhir. Aku menatap kertas buramku dengan wajah suram. Sepertinya buramnya kertas ini akan sama saja seperti nilaiku dan masa depanku yang muram.
Toh, prinsipku dalam mengerjakan tugas adalah “iseng-iseng berhadiah” mengandalkan kebejoan semata. Sukur-sukur tadi aku sempat melihat jawaban dari Firdaus secara tidak sengaja. Meski pada akhirnya aku tak jadi mengikuti perkataan makhluk khayalan kecil yang selalu berdiri di pundak kiri, berkulit merah, bertanduk dan berekor panjang. Aku berhak merasa bangga karena telah melakukan perbuatan jujur, lho.

Tiba-tiba aku merasakan tepukan ringan dari temanku, Tia.
“Gimana Ni? Bisa nggak tadi?”
“Entah, ga ngerti lagi nomor 12.”
“Katanya Rafael nomor 12 lebih dari 5000 lho.”
“Persetan teuing ah!!”

Desisku kesal dengan satu-satunya kalimat bahasa Sunda yang kuketahui, lalu aku mendatangi meja Bu Nadine dan mengumpulkan kertas yang dipenuhi dengan hasil karyaku yang terkesan ngawur.
“Lho, Diani kenapa? Kok mukanya keliatan capek?” Sapa beliau lembut.
“Ya saya capeknya ngurusin anaknya pak Suprapto itu bu,” Jawabku seadanya
“Kan Ibu sudah mengajarkan caranya?” Bu Nadine merapihkan kertas-kertas di mejanya.
“Nah itu dia bu, Suprapto sih ga ikut KB jadinya aku yang pusing hehehe,”
Aku terkekeh unyu, berusaha terlihat setenang mungkin yang akhirnya disambut dengan ledakan tawa dari sekelompok anak les yang berisi 15 orang. Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku hanya berbisik pelan “Tak sate kalian satu persatu”
Aku kembali ke tempat dudukku, Firdaus masih terlihat anteng-anteng saja setelah mengumpulkan hasil pekerjaannya. Ah, pastinya dia puas dengan jawabannya, dasar orang pintar tak belajar saja dapat nilai 100 semudah membalikkan telapak tangan. Aku mendekati mejanya untuk memastikan jawaban nomor 12.
“Us, susah nggak tadi?”
“Ancur minah, kamu tau nomor 12???”

TAMAT


Tidak ada komentar:

Posting Komentar